Rekonseptualisasi HARDIKNAS: Dari Pendidikan “PABRIK” menuju EKOSISTEM RIMPANG
Oleh: Prof. Dr. Jeffry Sony Junus Lengkong, M.Pd.
BASUDARA.News, Manado – Menjelang Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), kita kembali diingatkan pada filosofi adiluhung Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan sebagai “Taman.” Namun, mari kita jujur: apakah sekolah kita hari ini sudah menjadi taman yang menumbuhkan, atau justru telah berubah menjadi Pabrik yang menyeragamkan?
Dalam serangkaian pemikiran saya sebelumnya—terakhir mengenai belenggu mikro-politik di sekolah—saya melihat sebuah paradigma yang macet. Kita terjebak pada administrasi yang mekanistik. Murid dan guru diproses layaknya baut-baut dalam mesin besar birokrasi. Momentum Hardiknas tahun ini harus menjadi titik balik untuk melakukan Inversi Pendidikan.
Jawaban atas kejenuhan ini adalah transisi menuju “School as Ecosystem” (Sekolah sebagai Ekosistem). Jika pabrik bekerja dengan hierarki pohon yang kaku, maka ekosistem bekerja dengan logika Rimpang (Rhizome). Di sinilah kearifan lokal Mapalus menemukan relevansi globalnya. Mapalus bukan sekadar gotong-royong fisik, melainkan sebuah “Energi Relasional” yang memastikan setiap unit dalam sekolah saling menopang secara lateral, bukan sekadar menunggu instruksi dari atas.
Dalam ekosistem ini, lahirlah Kepemimpinan Bertunas (Sprout Leadership). Seorang pemimpin bukan lagi mandor pabrik yang mengawasi, melainkan pendidik yang memberikan Scaffolding (perancah) agar tunas-tunas baru—baik itu siswa maupun rekan sejawat—bisa tumbuh melampaui batas kemampuan mereka. Inilah esensi sejati dari Education 5.0: di mana teknologi (AI) hadir sebagai pelayan kemanusiaan, bukan penggantinya.
Visi “Sekolah sebagai Ekosistem” ini juga meruntuhkan dinding antara formal dan non-formal. Sesuai semangat UU Sisdiknas, pendidikan harus menjadi milik semua pembelajar (life-long learners), mulai dari pendidikan anak usia dini hingga pelatihan orang dewasa. Semuanya harus saling terhubung dalam jaringan rimpang yang Antirapuh (Antifragile).
Mari kita rayakan Hardiknas bukan dengan seremoni administratif yang melelahkan, melainkan dengan keberanian untuk BERTUNAS. Saatnya kita membubarkan logika pabrik dan mulai menanam ekosistem rimpang yang memanusiakan manusia, demi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih tangguh dan berdaulat.
(***/JO)



























