BASUDARA.NEWS, Manado – Mementum Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 tahun (17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2025), menjadi ajang pembuktian bagi anak bangsa dalam mewujudkan cita-cita luhur para pahlawan. Hal ini dikatakan oleh Gembala Teddy K. Batasina, S.Th., Minggu (17/8/2025).

“Terpujilah nama Tuhan sumber kemerdekaan sejati dan abadi yg menanugerahkan dan yg telah merahmati bangsa dan negara tercinta Indonesia menapaki babak baru momentum syukur kemerdekaan di usia 80 tahun,” kata Gbl. Teddy Batasina.

Gbl. Teddy sapaan akrab  mantan Ketua Umum PP KGPM melanjutkan, merdeka pada hakekatnya menunjukkan sebuah kondisi kehidupan yang bebas, lepas, menang, keluar dari zona belenggu terjajah, terpasung, terjerat, terhisap, dan terkungkung ke zona aman terlindungi dan terberkati. Semua kita termasuk bangsa dan negara Indonesia mendambakan, mengharapkan, serta menginginkan kondisi kehidupan seperti ini. Jika kita meletakkan dan mendasari esensi kemerdekaan dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan Indonesia dalam bingkai spiritualitas keimanan kepada Tuhan maka seyogjanya kita harus meletakkan segala sesuatu yang bermakna kemerdekaan dalam bingkai keyakinan bahwa Tuhanlah sumber Kemerdekaan itu.

“Di momentum penuh syukur yang didasari pada semangat kemerdekaan ini, mari kita belajar dari ziarah petualangan  pengembaraan bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah untuk menggapai dan memasuki gerbang tanah kemerdekaan  yang katanya berlimpah susu dan madu yakni tanah Kanaan (Keluaran 13:17-20),” ungkap Batasina.

Bagi Musa dan Josua serta bangsa Israel, Mesir bukanlah tanah kemerdekaan tapi tanah perbudakan. Mereka di tempa sedemikian rupa selama 40 tahun dan  mereka harus keluar dari tanah ini. Selanjutnya melanjutkan ziarah selama 40 thn menuju tanah kemerdekaan itu. Pertanyaannya; Sanggupkah para pemimpin dan umat israel melewati padang gurun yang kering dan tandus ? Mampukah mereka menembus ruang dan waktu yang sangat melahkan itu ? Mungkinkah mereka dapat tiba di tempat tujuan dengan mengandalkan dan bermodalkan kekuatan dan kemampuan sendiri? Jawabanya tidak.
Mengapa? Karna mereka terbatas dan dibatasi bukan hanya oleh ruang dan waktu tapi juga oleh kekuatan tentara Filistin dan ancaman-ancaman yang sangat serius. Oleh karena itu menyadari keterbatasan kelemahan dan kekurangan Allah bertindak menyatakan kuasa sekaligus membuktikan keberpihakan secara absolut melalui penyertaan dan tuntunan. Apa itu? Pada waktu malam Tuhan menuntun dengan tiang api dan pada waktu siang dengan tiang awan. Sebuah bentuk tuntunan yang spektakuler mengagumkan serta menakjubkan dan yang belum pernah dialami oleh pemimpin dan umat Israel. Perjalanan yang berputar dari padang gurun menuju kelaut Teberau, mengisyaratkan bahwa meski perjalanan yang panjang tapi tangan Tuhan tidak kurang panjang memberkati bangsa ini.

“80 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia menyadarkan kita bahwa Tuhanlah sumber kemerdekaan yg menuntun bangsa indonesia melewati dari zona penjajahan menuju zona pembebasan. Kemerdekaan yang Memerdekakan. Apapun realitas dan dinamika konteks berbangsa indonesia di usia 80, kita tetap syukuri sambil terus menerus melakukan refleksi perenungan kebangsaan,” jelas Batasina.

Gbl. Teddi melanjutkan, satu hal yang harus kita ingat bahwasannya Dengan cara Tuhan sendiri Ia menuntun bangsa ini dan pemimpin bangsa ini. “Maka memaknai dan mengartikan kemerdekaan yang sesungguhnya, semoga kita tetap memiliki spirit yang sama, komitmen kebangsaan yang kuat, konsistensi bernegara yang teguh sambil terus menghadirkan terang, keadilan dan kebenaran di tanah merdeka ini. Yakinlah tuntunan dan penyertaan Tuhan tidak pernah beralih dari dahulu sekarang dan selamanya bagi bangsa indonesia. Merdeka..!,” pungkas Gbl. Teddi.

(*/JO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here